aku selalu berfikir bagaimana aku bisa bangkit dari semua ini. Ku renungkan kata-kata temanku tentang rasa percaya diri. Bagaimana aku bisa menjadi pemberani. Aku hanya diam, diam dan terus saja diam. Untuk bicara di kelas saja aku butuh kesiapan yang matang. Sampai-sampai aku gugup setengah mati. Kaki bergetar, muka pucat dan jantung deg-degan. Entah kenapa aku selalu tidak bisa untuk berbicara di depan kelas saja.
Pelajaran geografi, yang merupakan mata pelajaran yang aku senangi di kelas IPS akupun juga tidak bisa menunjukkan kepada guruku kalau aku senang pelajaran itu. Teman-temanku berlomba-lomba untuk mencari nilai besar dan mereka berani maju kedepan untuk menjelaskan atau menjawab soal yang di berikan oleh guruku. Sedangkan aku hanya diam di tempat duduk, tidak mengacungkan tangan seperti teman-teman yang lain. Sebenarnya hatiku selalu berkata kenapa aku tidak berani untuk mencobanya. Hingga suatu hari ketika pelajaran geografi seperti biasanya guru memberi tawaran kepada kami siapa yang berani untuk menjelaskan suatu materi di depan kelas. Semua teman-temanku berebut untuk bisa mendapat kesempatan maju kedepan. Karena siapa yang bisa menjelaskan mendapat nilai tambahan. Namun, aku hanya diam saja tanpa ikut mengangkat tangan. Aku tersentak, ketika namaku dipanggil oleh pak guru untuk menjelaskan kedepan kelas. Aku hanya bisa berbicara seadanya. Itu saja sudah hampir membuatku pingsan. “Huuhh… hampir saja aku pingsan di depan tadi”. Gerutuku kepada temanku. Temanku hanya menanggapinya dengan senyuman.
Tak terasa waktu berjalan cepat sekali, dan akupun sudah duduk di bangku kelas tiga. Teman-temanku sudah memikirkan tentang jurusan apa yang akan mereka ambil ketika kuliah nanti. Sedangkan aku masih bingung mau memilih jurusan apa. Namun aku sudah mencoba bertanya kepada guruku tentang jurusan apa yang pantas buatku. Beliaupun sudah memberi saran kepadaku, dan sekarang aku akan berusaha untuk mencapai saran dari guruku.